Khasiat Obat Tradisional

Obat Tradisional yang aman tanpa efek samping

Tips Menjalani Kehamilan Sehat Bagi Penderita Epilepsi

tips menjalani kehamilan sehat bagi penderita epilepsi

Bagi setiap pasangan yang telah menikah, memiliki keturunan merupakan sesuatu yang sangat diharapkan, termasuk bagi mereka yang mengidap beberapa jenis penyakit, seperti epilepsi. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Wanita penderita epilepsi juga bisa kok menjalani kehamilan. Asalkan bunda selalu berkonsultasi dengan dokter pada sat pra kehamilan. Karena tata lakssana epilepsi harus ditelusuri kembali dengans eksama sebelum akhirnya mengandung.

Kehamilan pada penderita epilepsi jelas bisa berbahaya, karena saat kejang wanita hamil bisa mencederai bayinya, mengalami kecelakaan yang tidak disengaja atau bahkan mengalami keguguran. Menurut Kurnia, Ketua Kelompok Studi (POKSDI) Epilepsi, kehamilan pada pasien epilepsi memang meningkatkan sejumlah risiko. Penelitian telah membuktikan bahwa terdapat peningkatan risiko komplikasi obstetri pada penyandang epilepsi dibandingkand engan kehamilan normal. Beberapa jenis obat antiepilepsi (OAE) disebut-sebut dapat memberikan risiko cacar janin lebih besar daripada yang lainnya.

Selain itu, sekitar 23%-30% wanita yang menderita epilepsi yang sedang hamil, bangkitan atau serangan kejang-kejangnya akan meningkat. Namun, sebagian besar dari mereka merasakan tidak ada perubahan tentang frekuensi bangkitannya. Dalam menghadap kehamilan risiko tinggi seperti ini, dibutuhkan penanganan secara terpadu antara ahli kebidanan dan ahli saraf agar pasien dapat bebas dari bangkitan. Selain itu, bantuan ahli anka juga diperlukan untuk memantau adanya gangguan perkembangan dan kelainan kongenital.

“Bisa dengan mengurangi dosis obat, mengubah obat, dan menambahkan vitamin atau suplemen yang mengandung asam folat,” ujar Kurnia.

Baca juga : Khasiat Obat Tradisional

Asam folat dikonsumsi sebelum konsepsi atau tiga bulan pertama kehamilan. Sangat disarankan untuk mengontrol nagkitannya sebelum terjadi kehamilan. Frekuensi bangkitan epilepsi biasanya dipengaruhi oleh perubahan kadar hormon dalam tubuh wanita, yaitu estrogen dan progesteron. Hormon estrogen membuat otak lebih mudah mengalami bangkitan, sebaliknya hormon progesteron menyebabkan otak lebih sulit mengalami bangkitan.

Namun, Kurnia meminta untuk tidak terlalu khawatir. Karena lebihd ari 93% wanita penderita epilepsi dapat menghadapi kehamilan dengan normal dan janin dalam kondisi yang sehat. Ketika melahirkan, disarankan ibu hamil untuk melakukannya di klinik atau rumah sakit yang memiliki fasilitas perawatan epilepsi dan unit perawatan intensif untuk bayi. Persalinan dapat dilakukan secara normaltanpa operasi dan selaam persalinan, OAE masih harus tetap dikonsumsi.

Perlu diingat, menyusui merupakan pekerjaan yang melelahkan dan bisa menyebabkan ibu kurang tidur. Hal ini dapat mencetuskan bangkitan. Maka dari itu, ibu penderita epilepsi perlu memperhatikan waktu istirahat, misalnya dengan mencuri waktu tidur siang.

Selain itu, bunda juga perlu berhati-hati dalam merawat bayi. Sebaiknya ganti pakaian bayi dan memberinya makan di lantai. dan jika berada di rumah sendirian, jangan memandikan bayi, cukup dengan diseka saja. Ikatkan kereta bayi ke badan bunda dengan tali yang kuat agar tidak mudah jatuh serta ikatkan anak ke badan ibu dengan tali yang kuat jika anak berada di luar kereta bayi.

Kurnia menyatakan bahwa penanganan penyandang epilepsi wanita memang membutuhkan perawatan khusus. Itu tidak lain karena fluktuasi hormonal dalam tubuh wanita, seperti pubertas, menstruasi, dan menopause.

Artikel terkait : Tips Diet untuk Penyembuhan Epilepsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *